Tampilkan postingan dengan label The Battery. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Battery. Tampilkan semua postingan

12/07/10

SINOPSIS THE BATTERY

PART 2


            Lemparan pertama. Bola meleset dari tangan Gou.
"Baiklah... sekali lagi" kata Gou pantang putus asa.
            Lemparan kedua. Sebenarnya Gou bisa menangkapnya, tapi bola itu mental kembali ke depan. (ooww..)
"Whoaa.. Bolanya hidup" kata Gou terkejut melihat kemampuan Takumi melempar bola.
"Tangkap itu ........... Jika kau seperti itu, basemu akan dicuri oleh runners" kata Takumi.
"Jadi kau bermaksud memihak para runners (lawan)" kata Gou



            Lemparan ketiga, lemparan ke empat... Gou masih belum bisa menangkapnya. Lemparan kelima, akhirnya Gou bisa menangkap lemparan bola Takumi.
"Yess!! Lempar lagi Harada..!! Lebih banyak lagi, aku pasti akan menangkap semuanya" kata Gou bersemangat. Takumi tersenyum mendengar ocehan teman barunya itu. :))) (personal opinion : kyaaa... Hayashi Kento ganteng banget pas senyum.. ; )))



            Tiba-tiba Inamura, kakek, dan ayah Seiha muncul dari belakang Seiha, mereka ikut asyik menonton Takumi dan Gou.
"Ayoo" kata Gou. Takumi bersiap melempar bolanya.
"Time out" kata ayah Seiha. Takumi terkejut, sehingga membuat lemparannya melenceng jauh ke papan kayu di gudang, menyebabkan papan itu jatuh.
"Maaf Takumi, kau juga.. Inamura dari perusahaanku ingin untuk memukulnya (memukul bola). Tidak apa-apa kan??" Tanya ayah Seiha. Takumi terlihat agak kesal dengan kedatangan ayahnya.
"Maaf.. maaf.. aku tak bermaksud mengganggu kalian" kata Inamura sambil menghampiri mereka bertiga.
"Aku merasa gatal melihat kalian berdua (maksudnya gatal pengin memeukul bola), bolehkah aku mencobanya? Hanya untuk satu pukulan" tambah Inamura
"Baiklah" kata Gou menyetujui begitu saja.. (emang Gou orang yang kelewat baik.. =.=). Gou menjelaskan bahwa Inamura dulunya adalah seorang batter saat masih SMA, dan pernah bertanding di Koushien (lapangan baseball di prefektur Hyougo, tempat untuk pertandingan final baseball dalam kejuaraan nasional baseball se-SMA jepang)



"Jadi bagaimana?" tanya Takumi datar.. tanpa ekspresi -.-
"Jadi.. ayo kita kalahkan dia" kata Gou optimis
Takumi tersenyum," tentu saja"
            Lemparan pertama. Bola bisa ditangkap Gou dengan baik.
"Strike one" kata Seiha
"Nice Ball " kata Gou
"Dia membuatku mundur.. susah dipercaya kalau dia masih SMP" kata Inamura sambil geleng-geleng kepala.
"Inamura" kata kakek
"Ya"
"mereka baru mulai masuk SMP minggu depan"
"Hah? Apa?" tanya Inamura kebingungan. Takumi melempar lagi bolanya, dan lagi-lagi Inamura tidak bisa memukulnya. (kasian deh loe)



"Strike Two..!!"
"Jangan menyerah.. Koushien" kata ayah Seiha pada Inamura
"Tunggu.. Time Out!!" kata Inamura, kemudian dia melakukan pemanasan sambil mengayun-ayunkan tongkat pemukulnya.
"Pak Tua " kata Takumi (nggak sopan ni anak.. =.=)
"Ada apa?"
"Lemparan berikutnya akan tepat di tengah" kata Takumi
"Oke..ayoo" teriak Gou.... Takumi melempar bolanya dan...
'"Strike Three!!" (hore..hore)
"Yeah..Nice ball.. bagus"
"Hey..Inamura" panggil kakek
"Kau kalah karena meremehkan dan menganggap mereka masih kecil" terang kakek.



            Tiba-tiba ibu Gou dan ibu Seiha datang dan memarahi anggota keluarga masing-masing (You know what I mean?)
"Gou-chan..!!! Apa yang kau lakukan? Ini saatnya bersiap-siap untuk sekolah minggu depan, mengapa kau disini?" oceh ibu Gou
"Baik..baik" jawab Gou
            Sementara itu, ibu Seiha hanya diam, menggandeng Seiha dan menatap tajam pada Takumi, Takumi berbelik menatap ibunya (ada sedikit rasa iri dari Takumi pada Seiha).
"Kau tidak boleh keluar hanya dengan mengenakan ini" kata ibu Seiha sambil memakaikan jaket pada Seiha. Kemudian menggandeng Seiha untuk mengajaknya pergi.
"Tunggu sebentar ibu.." kata Gou. Ibunya sudah marah sampai ubun-ubun
"Maaf, Harada. Aku harus menyiapkan diri untuk sekolah"
"'Kau berhasil (berhasil menangkap lemparan Takumi)" kata Takumi
"Kau juga... itu tadi lemparan yang luar biasa" kata Gou
"Bisakah kau melemparnya lagi besok? Sampai aku bisa memutuskan baik atau tidak jika aku akan melanjutkan baseball. Bisakah kau membiarkanku menangkap lemparanmu setiap hari?"
"Tentu saja" kata Takumi.. tanpa ekspresi. Kemudian mereka berdua tertawa.

Malamnya...

            Badan Seiha panas, ibu mengompresnya dengan air hangat. Sementara itu, di ruang makan...


"lihat... ini dimasak dengan baik sekali, kau juga harus makan banyak sayuran" kata kakek Seiha pada Takumi. (yang memperhatikan Takumi dengan baik hanya kakeknya)
            Ibu Seiha keluar dari kamar. "Bagaimana keadannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya ayah Seiha.



"Obatnya sudah mulai bekerja. Demamnya juga sudah turun. Sekarang dia tidur" kata ibu
"Hey, Takumi. Aku telah memperingatkanmu berkali-kali. Jangan perlihatkan pada Seiha. Badan Seiha sangat rentan, bermain baseball sangat tidak mungkin baginya. Bagaimana kau bisa memperlihatkan baseball pada anak sekecil itu?. Bersikaplah dewasa sebagai kakak!" ibu memarahi Takumi
"Makiko..." panggil ayah Seiha
"Kau juga..yah (ayah—kakek seiha). Seperti saat aku mengira dimana kau menghilang. Kau tetap tak bisa berhenti dari baseball kan?"
"Makiko.." kata ayah Seiha
"Kau juga..!!!! Kita memutuskan untuk pindah kesini karena bagus untuk kesehatan Seiha, tapi yang alian pikirkan hanya Baseball..!! Baseball..!! dan Baseball..!!!" teriak ibu Seiha.
"BRAAKKK" Takumi menghantamkan sumpitnya di meja dengan keras. Membuat semuanya terkejut.
"Katakanlah..Hiroshi-kun. Seiha terlihat sangat menjanjikan" kata kakek
"Ya... uhm.. dalam apa?" tanya ayah Seiha *Gubrakss*
"Matanya berbinar-binar hari ini, itu adalah mata seseorang yang nantinya akan berbekat dalam baseball" kata kakek. Ibu terlihat cemberut, membuat ayah ketakutan.
"Apakah aku telah berkata sesuatu yang tidak penting" kata kakek
"Ayo kita minum"
            Sementara itu, Takumi terlihat sedih dengan perkataan ibunya tadi. (Aduh kacian.. sini aku peluk..hohoho).

=== To Be Continue ===
Read More

25/06/10

THE BATTERY


SINOPSIS (PART 1)

Di sebuah lapangan baseball terjadi pertandingan seru antar sekolah. Seorang pitcher (pelempar bola) terlihat sedikit gugup saat akan melempar bolanya, karena pertandingan hampir berakhir.

 
"Ayo lempar.." kata seorang batter (pemukul bola) lawan kepada pitcher tsb.

"Ayo.. lemparan terakhir. Lempar tepat di tengah" kata catcher (penangkap bola) kepada pitcher tsb

Sang pitcher segera mengangkat tangannya dan mengayunkan bola. Sayangnya bola itu dapat dipukul oleh batter lawan. Sang pitcher terlihat sangat kecewa
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Uhuk-uhuk...uhuk..uhuk.." seorang anak kecil sedang terbatuk-batuk di dalam mobil
"Kau tidak apa-apa Seiha?apa kau sakit? Apa kau merasa mual?" tanya ibunya
"Tahan Seiha... kita hampir sampai" kata ayahnya
"Tutup jendelanya Takumi, nanti Seiha bisa demam" perintah ibunya, namun Takumi malah cuek dan melempar-lempar bola baseballnya. Ibunya sedikit jengkel dengan tingkah laku Takumi.
"Takumi..." perintah ibunya sekali lagi. Namun Takumi tetap diam tak bergeming. Ayah Takumi juga hanya diam memandang Takumi lalu meneruskan menyetir. (ayah macam apa itu.. -.-)
"Angin membuatku merasa lebih baik" kata Seiha menengahi. Takumi hanya diam.


Tak berapa lama kemudian, mereka menghentikan mobil untuk menikmati pemandangan sejenak. Seiha digendong oleh ayahnya.
"Seiha.. rumah kakek berada di suatu tempat disekitar sana" kata Ayahnya
"Waaw.. aku bisa melihatnya... ada disana Kak" kata Seiha pada Takumi. Namun Takumi hanya diam di belakang.
"Takumi, ini adalah kota dimana keluarga Harada akan menghabiskan kehidupan barunya disini" kata ayah Takumi.
"Sini.." kata Ibu Takumi. Tapi Takumi seperti biasa tetap diam.
"Haaaah... udara disini sangat segar" kata Ibu Takumi
"Seiha.. apakah demammu telah turun? Bagaimana dengan tenggorokanmu? Apa masih sakit?" tanya ibu Seira. Membuat Takumi sedikit merasa iri pada Seiha
------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Akhirnya mereka sampai di rumah kakek. Di dalam rumah, Seiha dan ayahnya segera pergi ke altar untuk mendo'akan nenek. Ibunya sibuk membersihkan ruangan, sementara Takumi sudah berganti baju olahraga.
"Ahh.. membawa banyak kenangan.. benda-benda ini masih ada pada tempatnya" kata ibu Seiha.
"Ini dulunya kamar ibu.. barang-barang kita akan sampai besok... jadi bersihkan ruangan sampai selesai hari ini" kata Ibu Seiha pada Takumi. (Seperti biasaaaaa....Takumi tetap cueeeksss) Takumi malah berlari keluar sambil membawa bola baseballnya.
Tiba-tiba ibunya teringat sesuatu... "Seiha....!!! Dimana kau? Ini saatnya minum obat"


Seiha sedang berada di belakang rumah bersama kakeknya, sedang menyalakan api di tungku, membuat air hangat untuk mandi.
"Ini pertama kalinya kan? Kau mandi dengan sesuatu seperti ini?" tanya kakek Seiha. Seiha mengangguk senang. Kemudian ayah Seiha muncul dan memberi hormat pada ayahnya a.k.a kakek Seiha.
"Oh.. ayah......Terima kasih telah mengizinkan keluarga kami tinggal disini."
"Tidak..tidak.. Jangan terlalu formal seperti itu. Yang terpenting, kalian sangat beruntung bisa pindah kesini saat musim panas" kata kakek Seiha
"Ya.." jawab ayah Seiha
Tiba-tiba Takumi datang.
"Ah Takumi.." kata kakek Seiha.ayah Seiha memintanya untuk memberi salam pada kakek. Tapi Takumi hanya diam.
"Jika ingin jogging...kuil Nitta mungkin bagus untuk jogging" kata kakek Seiha.
"kakek.. ajari aku teknik curve"
"Tidak... kau belum siap" kata kakek. Takumi langsung ngacir pergi.
"Takumi.. Takumi..." ayahnya memanggil Takumi. Dia merasa malu atas kelakukan Takumi terhadap kakeknya.
"Aku minta maaf atas kelakuan Takumi"
"Tidak apa-apa...itu adalah caranya memberi salam" kata kakek



            Takumi berlari menuju kuil Nitta. Melewati sungai dan pemandangan desa yang menyejukkan. Sesampainya di kuil Nitta, Takumi melakukan pemanasan sambil melihat sekeliling kuil, dia tersenyum mengingat masa lalu. Kemudian Takumi mengambil bola beseballnya dan mengayun-ayunkan tangannya melatih lemparan bola.


Tiba-tiba seorang anak laki-laki berseru dari belakang, "Nice Pitch !" membuat Takumi sedikit terkejut. Anak laki-laki itu tersenyum.
"Kau Harada Takumi dari White Tigers, kan?" tanya anak tersebut sambil menghampiri Takumi. Takumi malah tambah terkejut.
"Aku melihatmu di Turnamen baseball junior, bagian pusat.. semua permainannya sampai ke final. Kita juga berpartisipasi dalam turnamen itu, tapi kita kalah dalam pertandingan kedua" kata anak itu, namun Takumi malah meneruskan pemanasan tanpa menghiraukan kata-kata anak laki-laki tersebut.
Sementara anak laki-laki itu terus bicara, "Sejak dari turnamen itu, aku telah menjadi fans Harada Takumi". Kata-kata anak tersebut membuat Takumi memandang padanya sejenak.
            Seolah-olah mengerti arti pandangan Takumi, anak laki-laki itu melanjutkan bicara ,"Oh.. aku.. Nagakura Gou pemain nomor 4 dalam Nitta Stars, seorang catcher".
"Seorang cacther" kata 2 anak kecil dibelakang Gou. Takumi terkejut (lagi).
"Haruskah aku melemparimu satu?" tanya Takumi dengan sinis.
"Eh?" Gou terlihat sangat terkejut.


"That is!....Jika kau dapat menangkap bolaku" kata Takumi yang sekarang sudah mau menanggapi Gou.
"Hebat..!!! aku akan membantu memindahkan barang-barang di rumahmu besok untuk itu. Kemudian ayo kita lakukan itu setelah kita selesai. Aku dengar ibuku dan ibumu, dulunya berteman sewaktu kecil. Ini pasti semacam takdir" kata Gou
"Takdir!" kata 2 anak buah Gou *bingung mau nyebut apa.. mereka ngikut terus sih.. -.-*
"Ambil ini" kata Gou sambil menyerahkan ember yang berisi ikan hasil memancingnya kepada Takumi.
"Aku tidak mau" kata Takumi *dasarr.. anak nggak tau diuntung..XP*
"Ambil ini.. meskipun kau tak mau..sampai jumpa" Gou lalu pergi.
            Dari kejauhan, kedua anak buah (atau apalah namanya itu) sedikit protes pada Gou.
"Gou-chan...Gou-chan.. Mengapa kau memberikannya ikan kita?"
"Tidak apa-apa" kata Gou
"Tapi tidak setiap hari kita mendapat ikan besar"
"Kita bisa pergi memancing lagi"
Takumi yang mendengar percakapan mereka, akhirnya mau mengambil ikan itu.

Keesokan harinya, kakek memasang papan nama di depan pintu rumahnya yang bertuliskan Harada Takumi dan Harada Seiha. Gou membantu mengangkat barang-barang keluarga Harada. Karena badan Gou yang besar, dia bisa mengangkat apapun dengan mudah. Sementara itu, ibu Gou juga sedang membantu bersih-bersih ibu Takumi dan memasak di dapur.
"Ibu.." kata Seiha
"Tinggal 5 detik lagi.. 4, 3, 2, beep..beep.. ayo kita lihat" kata Ibu sambil mengambil termometer dari ketiak Seiha
"Lihat... aku benar-benar tidak demam kan?" tanya Seiha
"Lebih baik terus waspada, Seiha. Jangan paksakan dirimu terlalu keras. Ok?" kata ibu sambil mengancingkan baju Seiha. Seiha mengangguk dan akan berjalan pergi.
"Konnichiwa..." kata ibu Seiha memberi salam pada Gou
"Konnichiwa.." Gou menjawabnya dengan ramah. Gou kemudian memandang Seiha sambil berjalan.. "Siapa namamu?" tanya Gou
"Harada Seiha.." kata Seiha yang langsung akrab dengan Gou. Seiha kemudian mengikuti Gou.
"Anak yang manis.. anakku juga manis saat dia dulu seusia Seiha" kata ibu Gou
"Aku tidak percaya Gou mau menyetujuinya... Keluar dari baseball setelah lulus SD.. jika saja itu Takumi.." kata ibu Seiha
"Aku mengijinkannya bermain baseball dengan persutujuan dari awal..dia adalah pewaris Rumah Sakit Nagakura" kata Ibu Gou
"Kau melakukan hal yang benar... apa yang mereka (Takumi, Seiha, ayah dan kakek) selalu bicarakan adalah tentang baseball" kata Ibu Seiha dengan sebal.


"Ah!!! Maki-chan.. akhirnya kau bisa kembali pada logatmu semula" kata Ibu Gou terkejut
"OH...kau benaaaarrrr...!!! Ini sudah lama sekali... aku tak melupakannya" kata Ibu Seiha sama terkejutnya dengan ibu Gou
"Tentu saja.. kau tak dapat melupakannya". Kemudian kedua ibu-ibu itu tertawa (layaknya para ibu-ibu kalau ngrumpi..XP). Tiba-tiba saja Takumi berdiri diam di depan pintu dapur sambil membawa bola baseballnya. Ibu Gou memberi salam pada Takumi, namun kemudian Takumi malah pergi, membuat ibunya merasa sangat malu.
"Apakah itu Takumi-kun?" tanya ibu Gou
"Aaah.. seperti anak yang tidak bersahabat kan?" kata ibu Seiha

Di sungai, Seiha sedang bermain dengan ikan hasil tangkapan Gou yang diberikan pada Takumi, kemarin.
"Seiha.." Gou memanggil Seiha
"Hey.. Gou-chan.. apa makanan ikan?" tanya Seiha
"Aku tak tahu pasti.. em?? Binatang-binatang kecil, cacing, bahkan mungkin kodok" kata Gou
"Terkadang.. manusia juga..." Gou menakut-nakuti
'"Apa? Benarkah"
"Bercanda...".
Kemudian Takumi muncul membawa sarung tangan baseball dan bolanya.
"Ayo kita lakukan..!!!" kata Gou bersemangat, lalu menjatuhkan barang bawaannya dan beranjak pergi diikuti Takumi. Ayah Takumi yang melihat kejadian itu merasa kebingungan. Akhirnya dia memutuskan untuk mengangkat barang yang dijatuhkan Gou. Ternyata barang tersebut sangat berat, membuat ayah Takumi kesusahan mengangkatnya. Padahal, Gou bisa dengan mudah mengangkat benda itu. Seiha tertawa melihat tingkah laku ayahnya.

 
Setelah melakukan pemanasan, Takumi dan Gou akan melakukan (yaahh. Semacam duel lah –Apakah Gou bisa menangkap bola yang dilempar Takumi?—semacam itulah ). Tanpa mereka sadari, Seiha mengikuti mereka dan menonton dari kejauhan sambil terbatuk-batuk.
"Ayoo.. berikan padaku" kata Gou bersemangat
Takumi tersenyum, bersiap untuk melakukan lemparan bolanya.


=== To Be Continue ===

N.B. : Jika masih bingung dengan cerita ini, atau bingung dengan penulisannya.. silahkan tanya saya.. :D. +++ Menerima kritik dan saran yang membangung +++


Read More

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...